Dana Bantuan Sembako Lansia di Majene Hilang dari Rekening

Bagikan berita

Majene, Porossulbar.id, 12 Mei 2026 β€” Seorang ibu janda lanjut usia, St. Hasiah (70), warga Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, mengaku kehilangan dana bantuan sembako yang tersimpan di rekening pribadinya. Peristiwa ini sontak menimbulkan kekecewaan keluarga serta menjadi sorotan masyarakat sekitar terkait mekanisme penyaluran bantuan sosial.

Menurut keterangan keluarga, dana bantuan tersebut sebelumnya masih tercatat ada di rekening saat dilakukan pengecekan pada akhir April 2026 di kantor Bank Negara Indonesia (BNI).

Namun, saat hendak melakukan penarikan pada Senin (11/5/2026), saldo tersebut tiba-tiba sudah tidak tersedia.

β€œKami kaget karena sebelumnya uang itu masih ada. Tapi saat mau ditarik, ternyata sudah kosong,” ungkap anak St. Hasiah saat ditemui wartawan.

Pihak bank yang dikonfirmasi menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya transaksi penarikan dana dari rekening milik St. Hasiah. Uang tersebut kembali secara otomatis ke pusat

Di sisi lain, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Banggae memberikan penjelasan bahwa dana bantuan yang telah masuk ke rekening penerima seharusnya segera ditarik.

Pasalnya, dalam ketentuan yang berlaku, dana bantuan dapat secara otomatis dikembalikan ke pemerintah pusat apabila tidak dicairkan dalam jangka waktu tertentu.

β€œMemang ada aturan bahwa dana bantuan yang tidak segera ditarik bisa kembali ke pusat. Namun, ini sering kali tidak dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat penerima,” jelas pendamping PKH.

Ketidaktahuan terhadap aturan tersebut diduga menjadi penyebab utama kejadian ini. St. Hasiah yang termasuk dalam kategori penerima bantuan desil satu (kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah), memilih menyimpan dana tersebut di rekening untuk digunakan secara bertahap sesuai kebutuhan sehari-hari.

Menurut pihak keluarga, dana bantuan itu sangat vital bagi kehidupan St. Hasiah, terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok dan pembelian obat-obatan, mengingat kondisi kesehatannya yang sering terganggu.

β€œUang itu rencananya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan beli obat. Ibu kami sering sakit,” tambah anaknya.

Akibat kejadian tersebut, St. Hasiah mengaku sangat kecewa. Ia mempertanyakan kebijakan penarikan otomatis yang dinilai tidak berpihak kepada penerima bantuan.

β€œKenapa harus langsung diambil semua? Padahal ini bantuan untuk tiga bulan. Kami butuh itu untuk hidup sehari-hari,” keluhnya.

Peristiwa ini memunculkan keprihatinan di tengah masyarakat. Warga berharap pemerintah dan pihak terkait lebih berpihak ke masyarakat rentang seperti lansia.

Kasus ini kini menjadi perhatian warga dan diharapkan dapat segera ditindaklanjuti oleh instansi terkait guna memberikan kejelasan serta solusi yang adil bagi St. Hasiah dan penerima bantuan lainnya.

Ikhsan